Sunday, October 29, 2006

::Pemerintah & Sopir Panther: Sama-sama Kejar Setoran::

Karno B. Batiran

Sejak otonomi daerah praktis diterapkan, Kabupaten/kota-kabupaten/kota berhak mengatur urusan rumah tangganya sendiri pokoknya hampir semua aspek pemerintahan bisa diatur oleh pemerintah daerah tanpa harus ada campur tangan dari pemerintah (pusat) dan pemerintah provinsi termasuk dalam hal anggaran. Hal tersebut menyebabkan pemerintah kabupaten harus berjuang keras untuk memperoleh dana untuk anggaran pengeluaran, belanja, dan pembangunan daerah.

Tak ayal hampir semua pemerintah kabupaten kemudian kelimpungan (kecuali beberapa daerah kaya dan potensial) untuk memburu target setoran bagi pendapatan daerah demi memenuhi kebutuhan keuangan agar terus bisa membangun dan “melayani publik”. Agar terus bisa mencapai target setoran pemerintahpun mengencarkan pungutan-pungutan baik pajak maupun retribusi yang di sana-sini kadang-kadang tumpang tindih, kelewatan dan memberatkan.

Suatu waktu seorang teman menceritakan sebuah anekdot tentang otonomi daerah. Ceritanya seperti ini, syahdan seorang Mahasiswa pulang kampung untuk liburan semester setelah malalui ujian akhir semester yang melelahkan. Mahasiswa tersebut pulang dengan memanfaatkan jasa angkutan mini-bus jarak menengah yang di daerah sulawesi selatan dikenal dengan istilah mobil panther.

Dalam perjalanan, Mahasiswa yang kuliah di jurusan ilmu politik tersebut iseng-iseng bertanya pada pak sopir, “pa’ menurutta apa itu otonomi daerah pa’”?, pak sopir tersenyum dan sejenak berpikir kemudian menjawab dengan nada satir dan gaya yang khas, "otonomi daerah itu anu… tambah banyak retribusi dibayar, semua terminal yang dilewati nasuruhki bayar lebih mahal retribusi jadi tambah banyak uangta keluar, tambah setengah matiki bayar setoran".

Si sopir memahami otonomi daerah sebagai sebuah sistem pemerintahan baru dimana sopir-sopir angkutan umum semakin banyak mengeluarkan uang karena harus membayar retribusi yang semakin banyak di setiap kabupaten yang dilewatinya.

Sambil tersenyum Mahasiswa tersebut terus mendengar penjelasan dan keluhan-keluhan pak sopir tentang banyaknya penarikan retribusi di setiap daerah dan melebar sampai ke demonstrasi mahasiswa yang membikin macet merusak jalan dan menyusahkan para sopir angkutan. Memang kita dengan mudah bisa menemukan petugas-petugas penarik pajak dan retribusi di sudut-sudut kota, terminal, pasar, pelabuhan, bandara, pinggir-pinggir jalan, dan sebagainya.

Belum lagi keluhan pak sopir tentang banyak hal tersebut usai didengar, tiba-tiba pak sopir melambatkan laju mobilnya demi melihat antrian mobil angkutan yang sama di depannya yang dicegat oleh beberapa polisi lalu lintas, pak sopir kemudian dengan sigap menyelipkan lembaran uang entah seribuan atau lima ribuan dalam lipatan surat-surat mobil kemudian berjalan ke arah gerombolan polisi (tiga atau empat orang) yang berdiri di bawah pohon di sisi jalan bersama motor patrolinya. Si sopir kemudian menyodorkan surat-surat mobilnya ke polisi yang sedang menggigit-gigit pluit. Si Mahasiswa terus memperhatikan ulah polisi-polisi lalu lintas tersebut.

Tanpa memeriksanya polisi tersebut mengembalikan surat-suratnya pada si sopir. Saat mobil kembali mulai melaju di jalan raya si mahasiswa kembali iseng bertanya pada si sopir, ‘ih... pa’ kenapa nah tidak naperiksaji pa’ surat-suratta nakasi kembalimi?”, si sopir kembali dengan nada ketus menjawab, ‘begitu memang de’, itumi kerjaannya polisi, memang bukanji surat-surat mau naperiksa uangji monambil biasami itu de’ itu juga bisaki ditahan di setiap kabupaten kalau lagi sialki, mobil trekmo iyya lebih parah karena lebih banyak pasti nakasikan baru disetiap pos ditahanki, tapi maumi diapa tidak bisaki juga apa-apa .”

Sambil terus mengerutu pak sopir menceritakan bagaimana kelincahan tangan para polisi mengambil uang yang diselipkan dalam lipatan surat-surat kendaraan kemudian segera memasukkannya kedalam kantong atau supaya tidak kelihatan menggumpal karena dimasukkan serampangan, biasanya mereka memasukkannya ke dalam sepatu boot-nya, dan itu sudah menjadi pemandangan umum di pinggir jalan. Sambil terus menggerutu dengan ulah para kaki tangan pemerintah sopir terus melajukan mobilnya. Kejadian seperti itu juga bisa dengan mudah ditemukan di pinggir-pinggir jalan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home